Logo
Miftahul Jannah
Masjid adalah Rumah Bagi Seluruh Ummat Islam untuk Beribadah, Belajar, dan Bersilaturahmi.
image

KETAPANG – Suasana khidmat dan penuh perenungan menyelimuti Masjid Miftahul Jannah di Pematang Putar, Kelurahan Mulia Kerta, pada pelaksanaan Shalat Jumat hari ini, 27 Juni 2025. Menjelang Akhir bulan Dzulhijjah, sebuah pesan kuat dan mendalam menggugah kesadaran para jamaah. Khutbah Jumat yang disampaikan oleh Ustadz Nursiri, juga seorang anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Ketapang, mengangkat tema yang relevan dan menusuk kalbu. “Membuang Sifat Kebinatangan dalam Diri, Menapak Tilas Jejak Tauhid Nabi Ibrahim AS.”

Dalam khutbahnya, Ustadz Nursiri, menekankan bahwa esensi terbesar dari bulan Dzulhijjah dan Hari Raya Idul Adha bukanlah sekadar pada penyembelihan hewan qurban. Menurutnya, prosesi itu adalah simbol agung dari sebuah perjuangan yang jauh lebih besar, perjuangan menyembelih hawa nafsu dan sifat-sifat kebinatangan yang seringkali bersemayam kokoh di dalam diri manusia.

Setiap tahun kita menyembelih sapi, kambing, atau domba sebagai wujud ketaatan kita. Namun, pernahkah kita bertanya pada diri sendiri, sudahkah kita menyembelih hewan yang sesungguhnya ada di dalam jiwa kita? ujarnya dengan suara yang mantap di hadapan jamaah Masjid Miftahul Jannah. Hewan itu adalah ego kita, kesombongan kita, kerakusan kita, kedengkian kita, dan keras kepalanya hati kita dalam menerima kebenaran.

Meneladani Keikhlasan Nabi Ibrahim AS
Untuk memahami makna qurban yang sesungguhnya, Ustadz Nursiri mengajak jamaah untuk kembali menapak tilas jejak ketauhidan Nabi Ibrahim AS, Sang Khalilullah (Kekasih Allah). Kisah monumental pengorbanan Nabi Ibrahim AS yang diperintahkan untuk menyembelih putra tercintanya, Nabi Ismail AS, bukanlah sekadar cerita. Ia adalah manifestasi puncak dari keimanan, kepasrahan, dan cinta yang total kepada Allah SWT.

Bayangkanlah sejenak posisi Nabi Ibrahim. Perintah itu datang untuk mengorbankan anak yang telah dinanti-nantikannya selama puluhan tahun. Secara logika manusia, ini adalah perintah yang mustahil. Namun, tauhid Ibrahim tidak menyisakan ruang untuk keraguan, jelasnya.
Di sinilah letak pelajarannya. Pengorbanan Ibrahim adalah simbol dari penyembelihan atas rasa memiliki, ego, dan cinta duniawi yang paling tinggi. Ketika pisau diletakkan di leher Ismail, yang disembelih sejatinya adalah keterikatan hati Nabi Ibrahim pada selain Allah. Kepatuhan mutlak inilah yang menjadi fondasi utama dari makna qurban.

Identifikasi dan Sembelih Sifat Kebinatangan
Lebih lanjut, Ustadz Nursiri menguraikan secara rinci sifat-sifat kebinatangan yang harus diwaspadai dan disembelih dari dalam diri:
 1. Sifat Rakus (Serakah): Seperti hewan yang makan tanpa pernah merasa puas, manusia seringkali terjebak dalam kerakusan terhadap harta, tahta, dan dunia. Sifat ini membutakan mata hati dari hak orang lain dan melupakan rasa syukur. Qurban mengajarkan kita untuk berbagi, untuk memberi yang terbaik dari apa yang kita miliki, bukan menumpuknya untuk diri sendiri, tegasnya.

 2. Sifat Sombong (Takabur): Merasa diri lebih hebat, lebih benar, dan lebih mulia dari yang lain adalah cikal bakal dari kejatuhan Iblis. Kesombongan membuat manusia sulit menerima nasihat, meremehkan sesama, dan menolak kebenaran. Dengan qurban, kita diingatkan bahwa semua manusia sama di mata Allah, yang membedakan hanyalah tingkat ketakwaannya.

 3. Sifat Dengki (Hasad): Iri dan benci melihat kenikmatan yang diterima orang lain adalah penyakit hati yang menggerogoti kebahagiaan. Sifat ini mendorong pada fitnah, ghibah, dan permusuhan. Semangat Dzulhijjah adalah semangat persaudaraan, bukan perpecahan.

 4. Sifat Keras Kepala (Al-Anud): Sifat ini merujuk pada keengganan untuk tunduk pada perintah Allah dan kerasnya hati dalam menolak hidayah. Nabi Ibrahim AS menunjukkan kelembutan hati dan kepatuhan, bukan kekerasan hati. Inilah yang harus kita tiru, tambahnya.

Hakikat Qurban : Ketakwaan dan Perubahan Akhlak
Menutup khutbahnya, Ustadz Nursiri memberikan sebuah kesimpulan yang kuat. Ibadah qurban yang diterima di sisi Allah bukanlah dinilai dari seberapa besar hewan yang disembelih atau seberapa banyak darah yang tertumpah. Sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Hajj ayat 37, “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.”

Maka, marilah kita jadikan momentum Dzulhijjah ini sebagai titik balik, serunya kepada para jamaah. Khutbah ini adalah pengingat untuk kita bersama. Hakikat qurban bukan sekadar darah dan daging, melainkan ketakwaan dan perubahan akhlak. Semoga setelah melewati Idul Adha, kita tidak hanya selesai dengan ritual, tetapi lahir menjadi pribadi baru yang lebih bersih jiwanya, lebih tunduk hatinya, dan telah berhasil menyembelih sifat-sifat kebinatangan yang merusak diri dan masyarakat.

Khutbah pada kesempatan kali ini disambut dengan baik oleh jamaah Masjid Miftahul Jannah, memberikan pencerahan dan bahan refleksi mendalam menjelang puncak pelaksanaan ibadah di bulan Dzulhijjah. Pesan ini diharapkan dapat terus menggema, mendorong setiap individu untuk melakukan qurban terbaik dalam hidupnya: mengorbankan ego demi meraih ridha ilahi.