Logo
Miftahul Jannah
Masjid adalah Rumah Bagi Seluruh Ummat Islam untuk Beribadah, Belajar, dan Bersilaturahmi.
image

Sebuah lembaran kosmik kembali tertutup. Waktu dalam keheningannya yang agung mengantarkan kita ke gerbang tahun baru 1 Muharram 1447 Hijriah. Bagi umat Islam ini bukan sekadar pergantian angka pada kalender. Ini adalah sebuah panggilan jiwa, sebuah undangan untuk menapaki kembali jejak peristiwa paling transformatif dalam sejarah risalah Hijrah.

Peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah bukanlah cerita tentang pelarian, melainkan narasi tentang pengorbanan, strategi ilahiah, dan kelahiran sebuah peradaban. Maka menyambut Tahun Baru Islam adalah merayakan semangat perubahan itu sendiri.

Membaca Ulang Titik Nol Peradaban Islam

Pernahkah kita merenung, mengapa kalender Islam tidak dimulai dari hari kelahiran Nabi (Maulid) atau hari pertama turunnya wahyu? Penetapan ini, yang digagas di era Khalifah Umar bin Khattab RA atas usulan Ali bin Abi Thalib RA, mengandung sebuah penalaran yang sangat dalam.

Pemilihan Hijrah sebagai titik nol kalender adalah sebuah pernyataan bahwa Islam adalah agama gerakan, perubahan, dan pembangunan masyarakat. Kelahiran seorang nabi adalah keajaiban, turunnya wahyu adalah anugerah, tetapi hijrah adalah momen di mana iman diuji, pengorbanan dibuktikan, dan fondasi sebuah ummah (komunitas) yang berdaulat diletakkan. Ia adalah titik balik dari fase dakwah individual di Mekkah menuju fase pembangunan masyarakat madani di Madinah.

Inilah semangat yang harus kita tangkap, Tahun Baru Islam mengajak kita untuk tidak pasif, melainkan proaktif dalam menciptakan perubahan positif, baik bagi diri sendiri maupun lingkungan sekitar.

Kemuliaan Muharram Bulan Allah yang Disucikan

1 Muharram membuka tirai sebuah bulan yang memiliki kedudukan istimewa di sisi Allah. Muharram adalah salah satu dari empat bulan suci (Asyhurul Hurum), sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ

Artinya: Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam (bulan yang empat) itu. (QS. At-Taubah: 36)

Makna haram atau suci di sini adalah dilipatgandakannya pahala bagi amal kebaikan dan diperbesarnya bobot dosa bagi kemaksiatan. Ini adalah bulan promosi spiritual dari Allah, sebuah kesempatan emas untuk mengakselerasi ibadah dan sebuah peringatan keras untuk lebih mawas diri dari perbuatan dosa.

Rasulullah SAW bahkan menyebut Muharram sebagai Syahrullah (Bulan Allah), yang menunjukkan keagungan bulan ini. Beliau bersabda:

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ

Artinya: Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah – Muharram. (HR. Muslim)

Dari Mekkah Mana Kita Akan Berpindah?

Jika hijrah adalah tentang perpindahan, maka setiap dari kita memiliki Mekkah dan Madinah personal. Tahun baru adalah momen untuk bertanya pada diri sendiri:

1. Dari Mekkah kemalasan, menuju Madinah produktivitas.

2. Dari Mekkah kebiasaan buruk (ghibah, amarah), menuju Madinah akhlak mulia

3. Dari Mekkah kelalaian dalam ibadah, menuju Madinah kekhusyukan dan ketaatan.

4. Dari Mekkah ketergantungan pada makhluk, menuju Madinah kebergantungan total kepada Allah.

Perpindahan ini membutuhkan niat yang lurus, sebagaimana fondasi semua amal dalam Islam. Rasulullah SAW bersabda dalam hadits yang menjadi pilar agama:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Artinya: Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya (akan dinilai) sesuai dengan apa yang dia niatkan. (HR. Bukhari & Muslim)

Mari kita luruskan niat hijrah kita di tahun 1447 H ini semata-mata karena mengharap ridha Allah SWT.

Langkah Nyata di Bulan Suci Amalan Utama

Semangat hijrah harus diwujudkan dalam aksi nyata. Bulan Muharram, khususnya hari Asyura, memberikan kita panggung amalan yang istimewa.

  1. Puasa Asyura (10 Muharram) dan Tasua (9 Muharram): Puncak ibadah di bulan ini adalah puasa pada hari ke-10 (Asyura). Keutamaannya luar biasa, yaitu menghapuskan dosa setahun yang lalu. Puasa ini adalah bentuk syukur atas diselamatkannya Nabi Musa AS dan kaumnya dari kejaran Firaun. Untuk membedakan diri dari amalan kaum Yahudi, Rasulullah menganjurkan untuk menambahkan puasa pada hari ke-9 (Tasua).

  2. Memperbanyak Sedekah dan Kebaikan: Ulama salaf menganjurkan untuk melapangkan nafkah bagi keluarga dan memperbanyak sedekah pada hari Asyura. Kebaikan kecil yang dilakukan di bulan mulia ini memiliki bobot yang besar di hadapan Allah.

  3. Muhasabah (Introspeksi): Gunakan malam-malam pertama di tahun baru ini untuk berkhalwat dengan diri sendiri. Buatlah neraca amal: mana yang lebih berat antara kebaikan dan keburukan di tahun lalu? Tuliskan resolusi hijrah yang ingin Anda capai di tahun 1447 H.

Selamat Datang Tahun Baru, Selamat Datang Perubahan

Tahun Baru Islam 1 Muharram 1447 H, yang diperkirakan jatuh pada Jumat, 27 Juni 2025, adalah momentum berharga. Ia bukan sekadar penanda waktu, tetapi penanda kesadaran. Kesadaran bahwa kita adalah musafir yang terus berjalan, dan hijrah adalah keniscayaan bagi jiwa yang mendamba surga.

Mari kita sambut fajar Muharram dengan hati yang bersih, tekad yang membaja, dan doa yang tulus. Semoga Allah memberkahi langkah-langkah kita, menerima hijrah kita, dan menjadikan tahun 1447 Hijriah sebagai tahun kebaikan, keberkahan, dan ampunan bagi kita semua.

Selamat Tahun Baru Islam 1447 Hijriah.